Winters Night | Bab 1

Hi akhir nya part 1 kelar ^v^ mungkin untuk part berikut nya akan lebih lama lagi 😛

Cast: Lee Jeunhye, Park Sungwoo

Latar: Tokyo, Korea, musim dingin.

Aku merasakan guncangan di sekitar pundak ku. Aku membuka pelan mata-mata ku yang masih dilanda rasa kantuk.

Ku lihat seorang yeoja berdiri dengan geram menatap ku. Ya, dia eonnie ku, dia Lee Jeun Yeon.

“Ah eonnie, waeyo kau menguncang tubuh ku kasar? Kau kira tidak sakit huh?” aku menarik selimut ku menutup wajah ku kembali.

“Hyaaa! Kau masih tidak mau bangun? Kau kira sudah jam berapa ini? Kau tidak mau kembali keTokyo?” ucap Jeun Yeon sedikit berteriak.

Aku segera bangkit dari tidur ku, terduduk sebentar untuk memulihkan nyawa ku yang belum sepenuh nya terkumpul.

Setelah beberapa detik nyawa ku seperti sudah kembali, aku menepuk jidat ku pelan dan bergumam “Astaga eonnie! Aku lupa hari ini aku kembali keTokyo.”

Jeun yeon hanya menatap ku tajam “Dongsaeng ku memang selalu babo kah?”

Tak aku pedulikan ucapan nya. Aku berjalan dengan buru-buru untuk mandi dan bersiap-siap.

***

Aku menatap jalanankotaSeoulselama perjalanan ke bandara. Aku harus kembali keTokyo. Begitu cepat kah waktu berjalan? Rasa nya baru kemarin aku kembali keSeoulmengunjungi eomma dan appa.

Musim dingin kali ini terasa sangat dingin, padahal ini baru hari kedua dari musim dingin.

Seketika eomma menyadarkan ku dari lamunan “Hyenie, kalau kau sudah tiba jangan lupa menelepon eomma nde? Lalu jangan lupa jaga kesehatan dimusim dingin seperti ini. Kau sendirian disana jadi jaga diri baik-baik. Oh ya, kau juga akan pulangkandi malam natal nanti?”

“Ne eomma, aku tau. Akukansudah lama di Tokyo dan sudah beberapa kali melewati musim dingin dengan baik.” Aku tersenyum singkat “Malam natal? Ah bahkan aku belum memikirkan nya. Tapi seperti nya aku akan pulang kesini lagi eomma. Disana aku hanya sendiri itu tidak menyenangkan.”

Eomma tersenyum sekali lagi “Baiklah kalau begitu, eomma tidak perlu khawatir lagi bukan?” dan aku mengganguk semangat.

“Hyenie, kita sudah sampai. Maaf kami tidak bisa mengantar mu sampai dalam. Tidak apa-apakan?” eonnie berbalik menatap ku dari tempat duduk nya.

“Ne eonnie, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Sampaikan salam ku pada appa. Nde?”

“Ya. Akan aku sampaikan pada nya.” Jeun Yeon menatap ku dengan senyum hangat dari bibir nya.

“Bye eomma, eonnie” ku kecup pipi eomma ku sebentar lalu turun dari mobil.

***

Aku melangkahkan kaki masuk ke bandara. Ku lihat kanan kiri ku “hmm… tidak terlalu ramai, mungkin belum saat nya liburan.” Gumam ku pada diri sendiri.

Ku lirik jam tanganku, sudah pukul 10.30AM itu arti nya 30menit lagi pesawat ku akan berangkat. Aku berlalri kecil ke ruang tunggu. Untung nya bawaan ku tidak banyak sehingga aku tidak terlalu sulit untuk membawa nya sendiri.

BUUUKKK.

Aku menarik nafas sebentar dan mendongakkan kepala ku sampai aku menatap siapa yang ada dihadapan ku.

Dia yang menabrak ku tapi dia hanya diam melihat ku?

“Hey, kau tidak apa-apakan?” akhir nya namja itu bersuara.

“Menurut mu? Apa aku baik-baik saja?” jawab ku ketus.

“Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja. Aku buru-buru jadi maafkan aku. Ok?”

Belum sempat aku menjawab namja itu sudah berlari lagi pergi. Dia keterlaluan bukan? Astaga! Aku akan terlambat. Dengan secepat mungkin aku mengambil tas dihadapan ku lalu berlari lebih cepat dari sebelum nya.

Nafas ku masih belum beraturan saat aku memasuki pesawat. Bagaimana tidak? Saat aku sampai ternyata sudah waktu nya take off jadi aku tidak sempat mengambil nafas sampai aku masuk pesawat.

Aku mencari nomor kursi ku. Dan dengan cepat aku menemukan nya. Ku taruh barang bawaan ku di bagasi atas.

Mengambil nafas dengan pelan-pelan. Lalu berpikir lagi tentang namja yang tadi menabrak ku. “Sungguh keterlaluan dia” ucap ku pelan.

Namja di samping ku bernyayi lagu.. lagu kesukaan ku! Lalu aku diam-diam mendengarkan dia bernyanyi. Aku seperti penguntit? Ah tidak aku hanya senang seseorang yang menyanyikan lagu kesukaan ku.

‘suara nya bagus, apa dia penyanyi?’ pikir ku dalam hati.

Lagu berhenti dan aku reflek menatap nya, tersenyum dengan cerah dan bertepuk tangan.

Namja yang sedari tadi menyanyi tersadar dengan kelakuan ku itu kini menatap ku. Aku sedikit terkejut. ‘Aduh Hyenie apa yang kau lakukan sekarang? Babo sekali kau.’ Gerutu ku dalam hati.

“Hmm, kau…” ucap nya tergantung dan aku segera berucap tanpa melihat nya “Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mendengarkankau bernyanyi hanya saja kau menyanyikan lagu kesukaan ku jadi aku.. aku mendengarkan nya.” Suara ku melemah di akhir kalimat ku. Takut dia marah karena aku berlaku kurang sopan.

“Ah tidak masalah. Anggap saja ini permintaan maaf ku karena tadi menabrak mu? Bagaimana?” ucap nya sambil tersenyum.

Aku menatap nya sebentar “Minta maaf?” aku diam sejenak sambil berpikir. Ah iya dia yang menabrak ku tadi yang langsung berlari itukan? Kenapa aku harus bertemu dengan nya? Tapi tunggu.. dia bilang apa? Dia bilang minta maaf dengan lagu itu?

“hey nona. Kau dengar aku?” dia melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah ku.

“Aish, kau kira dengan begitu aku bisa memaafkan mu? Kau bahkan membuat seakan-akan aku sangat bersalah.” Aku membuang muka ku ke bangku depan.

“Tapikankau memang salah nona, lagi pula ini impaskan? Aku salah dan kau juga salah.” Ucap nya ringan.

“Terserah kau saja.” Balas ku dengan rasa malas.

Aku terbangun dari tidur ku selama perjalanan keTokyo. Aku melirik sekilas ke arah yeoja di samping ku ini. Dia masih tertidur dengan lelap dan bahkan dia tidak sadar kalau pesawat ini sudah mendarat.

“Hey nona, bangun.. kita sudah sampai.” Ucap ku tidak terlalu pelan juga tidak terlalu kencang.

Dia sedikit menggeliat dan mata nya terbuka pelan, terlihat lelah.

“hmm, kita sudah sampai.” Dia mengulang entah bertanya atau berkata pada diri nya sendiri.

“Iya, dan aku ingin turun segera. Bisa kah kau berikan aku sedikit jalan?”

“Sabar sebentar aku butuh tenaga sedikit.” Lalu ia bergerak berdiri dan mengambil tas di bagasi atas tentu dengan pelan sekali.

“Ya ampun kau seperti orang yang tidak makan dan tidur seminggu.” Aku menggeleng dan berjalan pergi keluar.

***

Aku pergi menuju perbehentian bus, aku tidak terlalu suka naik taxi. Bus lebih menyenangkan.

Aku duduk dihalte sambil menunggu bus itu datang. Dan saat aku melihat kearah kiri ku, yeoja yang tadi sudah ada disamping ku dengan wajah yang sedikit kucel.

Aku sedikit tersenyum melihat dia, dia yang waktu ku tabrak masih rapi namun sekarang keadaan nya begitu memprihatinkan.

“Kau lagi nona.” Sapa ku ringan.

Dia yang menyadari suara ku lalu menatap ku kesal. “Nama ku bukan nona.” Dia mendengus kesal.

“Lalu? Akukantidak tahu nama mu non..”

“Kau tidak perlu tahu nama ku jadi kau tidak perlu menyapa atau memanggil ku. Arraseo?”

“Arra.”

Dan saat kami terdiam beberapa saat, bus yang aku tunggu datang. Setidak nya aku tidak akan kedinginan disini.

Dingin? Aku baru sadar yeoja tadi tidak kedinginan. Aku lirik sebentar dan ah ternyata dia memakai baju berlapis-lapis. “Pantas saja.” Gumam ku hampir tak bersuara.

***

Aku sudah memakai baju berlapis-lapis tapi kenapa sekarang masih kedinginan? Huh? Astaga apa udara ini mau membunuh ku sekarang?

Aku terus berjalan menyusuri jalan menuju apartemen ku. Jalanan nya tidak terlalu sepi dan tidak gelap jadi aku tidak terlalu takut walau sekarang sudah menjelang malam. Hanya saja aku merasa tidak enak dengan namja yang dari tadi ada di belakang ku.

Dia menguntit? Atau jangan-jangan dia mau balas dendam? Pikiran ku mulai melantur seraya aku masih berjalan.

Angin malam masih bertiup kencang dan sesekali membuat aku bersin tapi apa daya kalau apartemen ku masih lumayan jauh.

Aku melirik sekali lagi ke belakang untuk memastikan diri dan dia masih ada di belakang ku? Aku mulai sedikit cemas tapi aku beranikandiri untuk berhenti sebentar. Aku berbalik badan dan menatap nya tajam.

“Kenapa kau mengikuti ku?” dia terlihat agak terkejut. Karena ternyata dari tadi ia berjalan menatap aspal jalanan.

“Apa? Aku tidak mengikuti mu nona.” Jawab nya saat dia mulai merasa tenang.

“Sudah ku bilang jangan panggil aku nona. Jangan bohong! Dari dibandara sejak kau menabrak ku lalu kau pergi seenak nya dan sekarang kau mengikuti ku. Tindakan macam apa itu.” Omel ku panjang lebar.

Melihat ekspresi nya tidak ada ekspresi kesal atau apapun. Ekspresi santai. Apa benar dia penjahat? Astaga aku mulai lagi. Ku halaukan pikiran ku yang negative.

“Aku hanya ingin pulang. Jangan selalu menatap ku seperti itu. Aku bukan penjahat. Apartemen ku ada di depansana. Dan satu lagi, lebih baik kau tidak menghalangi jalan ku. Aku sudah hampir flu kau tau?” ucap nya sambil menunjuk arah apartemen yang sama dengan ku.

“Apa? Kau bilang apa? Kau tinggal di apartemen di ujung jalansana?” suara ku terdengar ragu.

Memang, karena aku yakin sebulan yang lalu saat aku kembali keKorea, aku tidak pernah melihat orang ini tinggal di apartemen ku.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku baru pindah ke apartemen itu 1minggu yang lalu.” Ucap nya sambil berjalan meninggalkan aku yang masih diam ditempat.

“1minggu yang lalu? Pantas saja aku tidak tahu.” Ucap ku pada diriku sendiri, namun rasa nya dia bisa mendengarnya.

Dia sedikit berbalik dan jalan mundur beberapa langkah agar posisi nya sama dengan ku. Dan aku hanya membiarkan dia melakukan itu.

“Apa kau tinggal disana juga?” dia bertanya saat langkah kami sudah sama.

“Menurut mu bagaimana? Diujung jalan ini hanya ada satu apartemen.”

“Jangan begitu dingin pada ku, kau ini seperti musim dingin saja. Jadi kita satu apartemen ya.. kebetulan sekali bukan?”

Aku mengabaikan nya yang masih bicara. Dan berhenti tepat di depan apertemen ku. Aku tersenyum akhir nya aku tak perlu berlama-lama dengan namja satu ini.

“Akhir nya sampai juga.” Aku melirik dia yang juga sedang tersenyum.

“Jadi kau tinggal di mana nona?” dia memiringkan kepala nya menghadap aku.

“bukan urusan mu.”

“Aku ini tetangga mu. Bersikaplah lebih ramah.”

“Ok.. aku tinggal di 201. kenapa?”

Aku masuk ke dalam apartemen dan mulai menaiki anak tangga satu demi satu yang terasa berat itu.

“Aku tinggal di 202. wah! Benarkankalau kita tentangga bahkan sangat dekat.” Ucap nya semangat namun aku tidak.

Aku membuka pintu apartemen ku lalu masuk. Udara terlalu dingin dan aku terlalu lelah untuk melayani dia.

***

“Kau sudah sampai Sung Woo? Kenapa malam sekali?” suara lembut menyapa saat Sungwoo membuka pintu apartemen nya.

“Iya tadi….” Ucapan nya terhenti. Lalu menenggok ke apartemen Hyenie sesaat ‘dia sudah didalam’ kata nya dalam hati.

“Tadi kenapa SungWoo?”

“Tidak apa-apa. Kau boleh pulang sekarang dan terima kasih telah menjaga apartemen ku.”

“Baiklah kalau begitu. Aku sudah siapkan makan malam untuk mu di meja makan jadi kau bisa makan sebelum kau tidur.”

“Arigatou oneechan.” Ucap Sungwoo sambil tersenyum.

Sungwoo menatap kakak nya yang pulang ke rumah nya. Ya Sungwoo memang meminta bantuan kakak nya untuk menjaga apartemen selama ia pulang keKorea. Bukan kakak kandung hanya kakak angkat. Namun Dia sangat baik. Nama nya Shitsuka Ayako.

Shitsuka Ayako, umur nya memang sudah mau memasuki umur 30tahun. Tapi dia masih terlihat cantik dan muda. Hanya saja sampai sekarang dia tidak mau mencari pasangan hidup nya.

Sungwoo menutup pintu dan memulai untuk membersihkan diri nya yang sudah dekil karena seharian berada dijalan.

Setelah Sungwoo sudah siap untuk makan malam nya. Ia teringat pada tetangga nya itu. “Apa dia sudah makan?” gumam Sungwoo. Lalu dengan segera ia berlari kecil keluar apartemen nya, menyusuri koridor apartemen nya beberapa langkah dan mengetuk pintu apartemen tetangga nya.

Tok tok tok …

 

“hey nona, apa kau ada didalam?” ucap sungwoo dengan jelas.

“Siapa?” Suara di dalam terdengar berteriak.

“Aku tetangga baru mu. Bukakanpintu nya nona.”

Tidak lama pintu terbuka dan hyenie di dalam itu menatap namja di hadapan nya dengan malas. “Mau apa kau?” ucap nya sedikit ketus.

“Kau sudah makan?” tanya Sungwoo santai.

“Sudah.” Jawab nya singkat.

Sungwoo melonggok kedalam apartemen nya untuk melihat apa yang dimakan yeoja ini. ‘Ramen’ gumam sungwoo itu saat melihat semangkuk ramen ada di meja ruang tengah itu.

Hyenie yang sadar dengan kelakuan sungwoo dengan cepat sedikit menutupi apartemen nya “Kau mau apa?”

“Ah tidak aku hanya ingin mengajak mu makan di apartemen ku. Ayako oneechan memasakan banyak makanan malam ini. Kau mau?”

“Tidak, terima kasih. Kau makan saja sendiri. Ini sudah malam.” Nada Hyenie itu sudah tidak terdengar ketus.

“Apa kau tega membiarkan aku makan sendiri nona?”

“Jangan panggil aku nona. Dan aku tega melakukan nya.” Hyenie mendengus kesal.

“Ok, maafkan aku.. lalu siapa nama mu? Agar aku tidak memanggil mu nona lagi.” Sungwoo tersenyum lebar menunjukan deretan gigi nya yang rapid an putih.

“Lee Jeun Hye. Apa kau sudah selesai? Disini dingin kau tahu? Apa kau tidak kedinginan?” ucap Hyenie acuh tak acuh.

Sungwoo menarik tangan Hyenie dan menutup apartemen Hyenie. Hanya dengan waktu tidak lama Hyenie telah duduk di ruang makan Sungwoo. Sungwoo hanya tersenyum melihat ekspresi Hyenie.

***

Baru saja aku mau menyantap makanan ku, ada yang mengetuk pintu. Saat aku membuka pintu dan menjawab pertanyaan aneh dari tetangga baru nya, tiba-tiba saja tangan ku sudah ditarik oleh nya. Dan lagi-lagi dia melakukan itu dengan seenak nya.

Aku terdiam saat sudah berada dalam apartemen nya, masih berpikir apa dia gila? Mengajak orang yang belum dikenal nya makan bersama. Pasti ada yang salah dengan otak nya.

Aku medesah kecil “Cepat makan dan aku akan segera pulang.”

“Kenapa? Kau tidak mau makan dulu?” masih dengan tersenyum.

“Tidak tetangga baru. Aku tidak mau.”

“Nama ku Park Sungwoo, ingat lah nama ku. Dan makan lah ini sedikit.” Sungwoo menyodorkan sepiring sushi roll.

Aku mengambil satu agar aku bisa segera pulang. Kenapa aku harus bertemu dengan namja seperti ini?

“Hatchiii..” dia menyentuh hidung nya yang sedikit memerah akibat bersin.

Dia kena flu?

“Kau baik-baik saja?” tanya ku pelan.

Dia mengangguk pelan juga masih sibuk dengan hidung nya.

“Ini obat untuk mu.” Aku menyodorkan sekeping obat flu untuk nya. Aku selalu membawa nya dalan jaket ku seperti saran eomma pada ku.

“Terima kasih. Kau baik.” Sungwoo mengambil obat yang aku berikan.

“Aku memang baik. Kalau begitu aku pulang dan beristirahat lah. Atau aku juga akan kena flu karena dekat-dekat denganmu.”

Aku berdiri menuju pintu dan berbalik sebentar dan ketika aku sudah di depan pintu “Kalau belum membaik sebaik nya besok kau ke dokter.” Dan aku meninggalkan nya.

***

“Hyenie!! Akhir nya kau sudah kembali kesini. 1 bulan tanpa diri mu itu apartemen ini begitu sepi.” Mizuki Yuka berlari kearah ku dan memeluk ku erat.

“Astaga oneesan. Aku bisa kehabisan nafas kalau kau memeluk ku seperti ini.”

“Maafkan aku. Aku terlalu merindukan mu.” Yuka oneesan mencubit hidung ku gemas.

Mizuki Yuka adalah tetangga ku, sejak pertama kali aku tinggal di apartemen ini, dia lah yang selalu membantu ku. Umur nya 3 tahun lebih tua dari ku tapi sikap nya masih saja seperti anak kecil.

Yuka oneesan, aku memanggil nya seperti itu. Dia tinggal di lantai 1. Apartemen ini memang kecil. Hanya memiliki 3lantai dan masing-masing lantai hanya punya 2 apartemen.

Yuka oneesan tinggal di apartemen nomor 102, lalu ada pasangan suami istri pemilik apartemen ini, paman Namuto dan bibi Kenko. Lalu aku tinggal di 201, 202.. ah ya tetangga baru itu. Siapa nama nya? Park? Ah iya aku ingat Park Sungwoo. Dilantai 3 nomor 301 ada Michiko Tetsu, namja dengan umur dibawah ku 2tahun, dia sendirian dan dia sangat baik. 302 ada Christina, nama nya tidak Jepang bukan? Ya karena memang dia bukan orang Jepang.. Dia hanya sedang melanjutkan sekolah nya disini sampai tahun depan. Dia juga orang yang ramah walau aku jarang melihat dia ada di apartemen nya.

“Aish.. Sebulan kau meninggalkan aku disini bahkan sekarang kau tidak senang aku peluk?” Yuka oneesan pura-pura marah pada ku. Benar-benar seperti anak kecil bukan?

“Jangan marah oneesan. Aku akan memasak untuk mu. Ok? Sebagai tanda maaf ku.”

“Benarkah? Baiklah kalau begitu.”

“Kau makan apa? Kari? Musim dingin lebih baik makan yang hangat bukan?” aku sedikit terkekeh melihat ekspresi Yuka oneesan.

“Kenapa kau memilih kari? Lebih baik aku makan ramen Hyenie.”

“Aku hanya bercanda oneesan. Ayo! Kita ke apartemen ku.”

***

“Sungwoo!!” Yuka oneesan berteriak memanggil ku saat aku hendak masuk ke apartemen ku.

“Adaapa oneechan?” aku berhenti dari aktivitas membuka pintu.

“Ayo ikut kami. Hyenie akan memasak makan malam hari ini. Dan itu arti nya semua orang di apartemen ini berkumpul.” Seru Yuka senang dan menyikut Hyenie pelan.

“Ah apa Yuka oneesan? Semua? Kau tidak bilang tadi.” Ucap Hyenie heran.

“Aku tidak perlu bilangkan? Bukan kah selama ini selalu begitu? Lagi pula Sungwoo ini tetangga baru jadi kau harus berkenalan. Kaukanbelum tahu tentang nya.” Yuka oneesan berbicara panjang lebar.

Aku hanya diam menyaksikan mereka yang berdebat kecil itu. “Yuka oneesan, tidak perlu begitu. Aku dan Hyenie sudah berkenalan semalam.” Aku menunjuk Hyenie yang masih sibuk membuka pintu.

“Oh ya? Benarkah? Aish Hyenie kau sungguh hebat kalau meliat laki-laki tampan.” Yuka oneesan berdecak dan aku hanya bisa terkekeh lagi.

“Apa? Yuka oneesan jangan menuduh ku seperti itu. Cerita nya panjang nanti saja baru aku ceritakan.” Hyenie masuk ke apartemen nya meninggalkan kami.

“Ya sudah Sungwoo, kau datang saja setelah sudah siap karena Hyenie memang selalu seperti itu sikap nya pada orang asing.”

“Ok oneechan. Terima kasih ya.” Aku tersenyum dan masuk ke apartemen ku.

***

Aku sudah memasak makan malam untuk Yuka oneesan karena janji ku. Memang benar kalau aku memasak, semua orang di apartemen ini akan berkumpul dan kita akan merasakan seperti pesta. Tapi kalau tetangga baru itu ikut tetap saja aku tidak bisa menolak walau pun sejujur nya aku sangat malas.

“Hyenie, aku panggilkan mereka dulu ya.” Yuka eonnie berdiri untuk keluar memanggil yang lain.

“Ya oneesan.”

“Yak! Oneesan! Kau baik sekali, menebus kesalahan mu meninggalkan kami sebulan. Kau membuat acara seperti ini.” Testu masuk dengan semangat dan sumingrah.

“Itu bukan salah ku Testu-kun. Jangan membuat aku seolah-olah aku penjahat.”

“Tapi nyata nya kami kesepian Hyenie.” Bibi Kenko membalas ucapan ku.

“Ah bibi jangan bicara seperti itu. Mana paman Namuto?”

“Dia sedang pergi dengan teman nya. Seperti biasa.” Aku hanya bisa mengangguk mengerti.

“Sungwoo oniisan kau ajak jugakanoneesan?” Tetsu menatap ku bingung.

“Apa? Kata nya Yuka oneesan akan mengajak nya kemari.”

“Hallo semua, aku datang membawa tetangga baru kita Park Sungwoo..” Yuka oneesan langsung duduk di sebelah ku.

“Hallo semua.” Sungwoo sedikit memberi salam dengan bungkukan badan.

“Hyenie, kau tahu Sungwoo juga berasal dariKorea?” tanya bibi Kenko.

“Ya aku tahu, kemarin saat aku pulang dariSeoul, aku bertemu dia dibandara sampai apartemen ini.” Aku menyendokan makanan ku ke mulut.

“Wah ternyata kalian sudah kenal duluan ya.”

“Bukan begitu bibi, hanya saja kita tidak sengaja bertemu. Betulkan Hyenie?” aku hanya menatap nya tajam. Setidak nya dia tidak perlu mengatakan hal itu disini.

“Maafkan Hyenie ya Sungwoo. Dia itu memang dingin dengan pria asing. Haha. Hanya pada Testu dan paman Namuto dia akan bersikap baik.” Jelas Yuka oneesan yang sadar dengan tatapan ku.

“Yuka oneesan, tidak perlu menjelaskan itu.” Aku berdecak karena kesal.

“Ah iya baiklah Hyenie aku akan diam saja.”

Suasana malam ini memang terasa hangat bagi orang-orang yang tinggal di apartemen ini. Apa lagi saat berkumpul untuk bercanda tawa satu dengan yang lain. Tapi tidak untuk aku. Aku masih merasa sedikit tidak nyaman dengan suasana ini.

“Hey Hyenie oneesan, kami sudah selesai. Kau ingin aku Bantu untuk membereskan nya?” Testu menawarkan diri.

Namja yang satu ini, memang penampilan nya selalu berantakan, rambut sedikit ikal dan sedikit panjang belum dirapikan itu membuat dia terlihat seperti anak berandalan. Namun pada kenyataan nya. Dia anak yang sangat baik.

“Tidak perlu Testu. Kau boleh mengobrol disini bersama yang lain. Aku bisa membereskan nya sendiri.” Ucap ku sambil tersenyum.

“Hyenie biar aku yang membantu mu ya.” Yuka oneesan menghampiri ku yang sedang membereskan meja.

“Tidak oneesan, kau temani bibi Kenko saja. Ok?”

“Aish. Baiklah kalau begitu.”

***

Aku membereskan dapur ku dan piring-piring yang tadi digunakan. ‘ternyata banyak juga ya.’ Gumam ku saat menatap tumpukan itu.

“Biar aku Bantu, sebagai ucapan terima kasih saja. Aku tidak menerima penolakan karena kau sudah melakukan itu pada Tetsu dan Yuka oneesan.” Dia tersenyum penuh arti di depan pintu.

“Terserah kau saja Park Sungwoo. Selama kau tidak membuat dapur ini menjadi kapal pecah.” Ucap ku sambil mengalihkan pandangan ku pada piring-piring tadi.

“Lalu? Kenapa aku masih dingin pada ku Jeunhye?” dia bertanya ketika kita memang cukup lama dalam diam ku rasa.

“Huh? Apa? Apa nya kenapa? Itukanalasan mudah Sungwoo. Karena kau baru ku kenal.”

“Tidak. Aku yakin bukan itu alasan nya. Bukti nya kau… saat mendengarkan aku bernyanyi.. kau begitu senang sampai lupa aku ini adalah orang asing bagimu.”

DEG

Aku terdiam mendengar ucapan nya. Memang benar waktu itu aku bahkan lupa kalau kita bahkan tidak kenal.

“Entahlah. Aku tidak tahu.” Jawab ku seadanya.

“Kau keras kepala sekali Jeunhye?”

“Mungkin nanti. Bukan sekarang. Ah benar akan ku ceritakan pada mu nanti. Saat aku benar-benar mengenal mu.”

“Baiklah. Aku anggap ini janji.”

Ucapan nya membuat ku sadar. Apa yang baru saja aku ucapkan? Janji? Astaga.

***

Mereka benar-benar seperti keluarga. Mungkin keputusan ku untuk menyewa apartemen disini itu tepat?

Jujur saja aku masih penasaran dengan Jeunhye. Hmm.. ya seperti nya ada sesuatu yang dia sembunyikan? Entahlah. Aku tidak tahu pasti.

Setidak nya aku merasa lebih baik disini.

‘Shibuya? Aku mau kesana kurasa untuk mengambil beberapa gambar.’

Aku memang suka mengambil gambar tapi aku bukan seorang photographer. Hanya sekedar hobby karena dia dimasa lalu ku.

“Oniisan! Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak kedinginan?” Tetsu menepuk pundak ku pelan.

“Hmm, Testu. Tidak, aku sudah mengenakan pakaian begitu tebal. Haha.”

“lalu? Kau mau kemana?”

“Aku? Aku ingin ke Shibuya, mengambil beberapa gambar.” Aku mengangkat sedikit kamera ku.

“Gambar? Kau photographer oniisan?”

“Bukan, hanya sekedar hobby Testu. Kau sendiri mau kemana?”

“Aku mau berkumpul dengan teman ku. Maaf aku tidak bisa menemani mu ke Shibuya. Kalau begitu aku pergi dulu ya.” Pamit Testu akhir nya.

“Ya, tidak apa-apa Testu. Selamat bersenang-senang.” Aku melambaikan tangan ku pada nya.

Aku memerhatikan sosok di hadapan ku yang sedang, hmm mungkin mencari sesuatu. Hyenie memunggungi ku jadi aku rasa dia tidak sadar aku sedang memperhatikan nya.

‘Yakanilang lagi kunci nya. Ish bener-bener deh.” Ucap Hyenie kesal, dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Tidak kedengaran seperti bahasaKoreamau pun Jepang.

Seolah dia sadar aku masih memperhatikan nya, dia menoleh menatap ku “Sungwoo.”

“Eh? Maaf, aku tidak bermaksud…” ucapan ku terhenti.

“Ya aku tahu tidak apa-apa. Hmm, jangan bingung dengan ucapan ku yang tadi. Itu memang bukan bahasaKoreaatau pun Jepang.” Jelas nya sambil membereskan tas nya yang tadi di acak-acak.

“Lalu? Itu juga kalau kau mau memberi tahu. Jika tidak juga tidak apa.”

“Mau kemana kau?” tanya nya mengalihkan pembicaraan awal.

“Aku mau ke Shibuya untuk mengambil gambar.” Aku menunjukan kamera yang ku pegang sedari tadi.

“Oh, kau photographer?”

“Bukan, hanya hobby.”

“Oh. Kalau begitu tunggu aku. Aku mau minta kunci pada paman Namuto.”

Aku hanya bisa menggangguk mendengar ucapan nya. Menunggu? Menunggu nya? Untuk apa? Seketika aku baru sadar akan ucapan nya.

Dan tak lama dia sudah kembali dengan kunci ditangan nya. Dia mengunci pintu nya dan menghampiri ku yang masih diam di depan apartemen ku.

“Sampai kapan kau mau berdiri disana dan mati membeku?” ucapan nya membuat aku tersadar dari pikiran ku.

“Eh.. oh… ah… tidak. Untuk apa kau menyuruh ku menunggu?” aku bertanya dengan rasa penasaran ku.

“Tadi kau bilang mau ke Shibuya bukan? Aku juga mau kesana. Mungkin kau bisa pergi dengan ku.” Ekspresi nya biasa, tidak ada senyum ajakan.

“Baiklah kalau begitu.” Aku berbalik dan menutup pintu ku.

Dia sudah berjalan kebawah lebih dulu dan aku menyusul nya.

***

Matahari menyinari dengan terik tapi dingin nya musim dingin kali ini terlalu berlebih. Aku yang memakai jaket tebal saja masih bisa mengigil kedinginan dan saat bicara mengeluarkan asap putih.

“Kau tidak suka dingin?” Sungwoo bicara tanpa menatap ku.

Kami kini berada di sebuah café kecil di daerah Shibuya. Dari sini pemandangan sangat indah. Ku pikir mungkin Sungwoo bisa mengambil hasil yang bagus dari sini.

“Tidak.”

“Oh ku kira. Ini pakai saja. Aku tidak terlalu merasa dingin.” Sungwoo memberikan syal yang ada di leher nya sedari tadi padaku.

“Terima kasih. Aku bukan tidak suka dingin, bahkan aku jauh lebih menyukai musim dingin. Tapi aku hanya tidak sekuat orang lain di saat musim dingin.” Aku bercerita dengan mengalir begitu saja.

“Oh.” Hanya itu tanggapannya.

Keheningan tercipta. Aku dan dia sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Entah memikirkan apa. Jujur saja aku bukan orang yang suka dengan keheningan.

Aku berdeham pelan “Ehem. Hmm…”

Dia mendongakan wajah nya melihat ku dengan tatapan bingung.

“Kau suka musim dingin?”

“Aku? Tidak terlalu.” Sungwoo mengibaskan tangan nya sesaat. “Lalu? Kapan kau mau menceritakan soal waktu itu. Janji mu.” Dia meneruskan perkataan nya.

“Apa? Janji yang mana?” tanya ku bingung. Maklum saja kalau aku suka melupakan sesuatu, aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.

“Ish kau pikun sekali Jeunhye. Itu tentang kenapa kau bersikap dingin dengan namja asing seperti kata Yuka oneesan.”

Aku tersadar dengan kejadian tadi malam. Ah bahkan aku lupa kalau aku berjanji akan menceritakan pada nya nanti.

Aku menepuk pelan jidat ku sendiri “Oh yang itu.”

“Iya. Bagaimana?”

‘kenapa dia begitu ingin tahu. Ish.’ Batin ku dalam hati.

“Maaf ya tapi rasa penasaran ku sangat besar Hyenie jadi aku ingin tahu. Itu memang benar-benar sifat yang tidak baik tapi..” seolah bisa membaca pikiran ku.

“Ya. Aku tahu.”

Aku menarik nafas sedikit lebih panjang “Itu karena dia.” Aku terdiam dan menatap kosong kopi di hadapan ku.

Aku tidak suka menceritakan sesuatu yang pribadi pada orang lain, tapi? Tapi kenyataan nya aku menceritakan ini pada namja yang baru kukenal.

“Dia?”

-TBC-

4 thoughts on “Winters Night | Bab 1

  1. akhirnya publish ~~
    g tetep ngebayangin sungwoo sebagai jonghun
    ahahahaa XD
    puas ff nya panjang~
    lg seru2nyaa malah tbc
    ditunggu lanjutan na, part 2 bakal seru pst 😀

  2. ‘”Yakanilang lagi kunci nya. Ish bener-bener deh”
    suerr itu bikin ngakak.
    kebayang muka yuli lg ngmng itu.
    wuakakakakakakak.

    lanjut lg yul.
    g penasaran nih.
    bisa x u sekali publish 2 part.
    wuakakakakakakak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s